Festival Kebonkliwon

FB_IMG_1506508617070.jpg

Festival, dari bahasa latin berasal dari kata dasar “festa” atau pesta dalam bahasa indonesia. Festival biasanya berarti “pesta besar” atau sebuah acara meriah yang diadakan dalam rangka memperingati sesuatu. Atau juga bisa diartikan dengan hari atau pekan gembira dalam rangka peringatan peristiwa penting atau bersejarah, atau pesta rakyat.

Sering pula disalah artikan dengan kata sayembara atau perlombaan (kompetisi).

Dari kata festival itu bisa mengakomodir seluruh kekayaan alam dan kreativitas warga masyarakat Dusun Kebonkliwon, dan Kebonkliwon diambil dari nama Dusun Kebonkliwon itu sendiri. Dan mengunakan logo 3 daun dalam satu tangkai yang melambangkan 3 generasi yaitu:

1. Generasi anak-anak

2. Generasi muda/ dewasa

3. Generasi sesepuh / orang tua

Dengan logo 3 daun dalam satu tangkai berharap kita dari 3 generasi bisa kompak bahu membahu membangun demi kemajuan Dusun Kebonkliwon. Generasi muda yang sebagai pendobrak kemajuan dusun sangat diperlukan yang didukung generasi anak-anak dan restu sesepuh warga Dusun Kebonkliwon.

Generasi muda Dusun Kebonkliwon mayoritas adalah penjual online bibit tanaman buah dalam rangka mengangkat nama Kebonkliwon punya nama baik, dipercaya, terkenal dan punya nilai jual lebih serta nguri-uri budaya maka pemuda dan warga masyarakat mengolah dengan diadakan Festival Kebonkliwon dengan tema “NYAWIJI WIJI” adapun makna dari Nyawiji Fokus dan wiji adalah benih atau biji. Sedangkan makna logo itu adalah daun bodi berarti pengayom, warna biru simbol hubungan dengan sang pencipta dan warna coklat melambangkan hubungan dengan sesama manusia serta warna hijau simbol alam atau kehidupan. Adapun acara sbb:

1. Kirab Budaya dan tumpeng

2. Pembagian / sedekah 1000 bibit

3. Pagelaran seni budaya

4. Pameran seni rupa

5. Pameran tanaman buah

6. Pameran tanaman buah unik

7. Khataman

8. Pengajian Akbar

Kebonkliwon, mengajak warga masyarakat peduli alam dan dengan diadakan acara tersebut agar banyak pengunjung masuk Dusun Kebonkliwon itu salah satu tujuannya. Tujuan lain tak kalah penting adalah bikin anak generasi muda kreatif, semangat belajar, mengaji, dan bisa menambah penghasilan masyarakat. Besar harapannya bisa jadi desa wisata buah unik dan tabulampot.

Advertisements

Sejarah Kebonkliwon

Kebonkliwon adalah suatu dusun yang masuk wilayah Desa Kebonrejo bagian utara, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Kebonkliwon terdiri dari 10 RT

RT 1 Ketuanya Pak Nuri

RT 2 Ketuanya Pak Jumadi

RT 3 Ketuanya Pak Muhudi

RT 4 Ketuanya Pak Islah

RT 5 Ketuanya Pak Darji

RT 6 Ketuanya Pak Rokhan

RT 7 Ketuanya Pak Suwarto

RT 8 Ketuanya Pak Nur Hashim

RT 9 Ketuanya Pak Muh Klasin

RT 10 Ketuanya Pak Muhfadil

Jumlah KK sekitar 350 kk serta jumlah penduduk sekitar 1570 jiwa. Luas wilayah sekitar 35 ha. Batas wilayah Dusun Kebonkliwon sebagai berikut:

Sebelah barat berbatasan dengan Dusun Mandiran

Sebelah utara berbatasan dengan Dusun Pagergunung Desa Banjarharjo

Sebelah timur berbatasan dengan Dusun Kemasan dan

Sebelah selatan berbatasan dengan Dusun Krandan dan Dusun Demangan.

Kepala dusun sekarang Pak Ismun

Kepala dusun sebelumnya Pak Abdul Rofiq

Kepala dusun sebelumnya lagi Pak Misbah

Pendiri Dusun Kebonkliwon adalah Seorang Tokoh agama yang sering disebut dengan Mbah Kebon yang bernama Singonegoro istri bernama R.A Padmasari orang kepercayaannya bernama Mbah Tasrif. Mbah Kebon atau Mbah Singonegoro mempunyai 2 anak yang pertama bernama Joyowinoto yang kedua R.A Sutrisni semua yang semare di Kebonkliwon Lor termasuk bapak dari Mbah Kebon / Singonegoro yaitu Singo Wongso.

Mbah Kebon / Singonegoro adalah keturunan dari Singo Wongso / Abdullah Sajad / Raden Sujono. Singo Wongso keturunan Mbah Pusponegoro / Lukman Hakim yang semare di Ngapeldento. Lukman Hakim keturunan dari Raden Kertoderjo / Kyai Gupito yang semare di Gupit. Raden Kertoderjo keturunan dari Kertoyudho / Kertinegoro / Somotali yang bangun desa Pring Tali. Kertoyudho keturunan dari Patih Suryantoko yang semare di Dusun Sabrang